CARDIORESPIRATORY ARREST

Cardiorespiratory Arrest



No. ICPC II : K80 cardiac arrhytmia NOS
No. ICD X :
Tingkat Kemampuan: 3B

Masalah Kesehatan

Cardiorespiratory Arrest (CRA) adalah kondisi kegawatdaruratan karena
berhentinya aktivitas jantung paru secara mendadak yang mengakibatkan
kegagalan sistem sirkulasi. Hal ini disebabkan oleh malfungsi mekanik
jantung paru atau elektrik jantung. Kondisi yang mendadak dan berat ini
mengakibatkan kerusakan organ.

Henti napas dapat mengakibatkan penurunan tekanan oksigen arteri,
menyebabkan hipoksia otot jantung yang menyebabkan henti jantung.
Henti jantung adalah konsekuensi dari aktivitas otot jantung yang tidak
terkoordinasi. Dengan EKG, ditunjukkan dalam bentuk Ventricular Fibrillation
(VF). Satu menit dalam keadaan persisten VF, aliran darah koroner menurun
hingga tidak ada sama sekali. Dalam 4 menit, aliran darah katoris tidak ada
sehingga menimbulkan kerusakan neurologi secara permanen.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Pasien dibawa karena pingsan mendadak dengan henti jantung dan paru.
Sebelumnya, dapat ditandai dengan fase prodromal berupa nyeri dada, sesak,
berdebar dan lemah (detik – 24 jam). Kemudian, pada awal kejadian, pasien
mengeluh pusing dan diikuti dengan hilangnya sirkulasi dan kesadaran (henti
jantung) yang dapat terjadi segera sampai 1 jam.

Hal yang perlu ditanyakan kepada keluarga pasien adalah untuk mencari
penyebab terjadinya CRA antara lain oleh:
5 H (hipovolemia, hipoksia, hidrogen ion = asidosis, hiper atau hipokalemia
dan hipotermia) dan 
5 T (tension pneumothorax, tamponade, tablet = overdosis
obat, trombosis koroner, dan thrombosis pulmoner), tersedak, tenggelam,
gagal jantung akut, emboli paru, atau keracunan karbon monoksida.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan tanda vital ditemukan: pasien tidak sadar, tidak ada nafas,
tidak teraba nafas, tidak teraba denyut nadi di arteri-arteri besar (karotis dan
femoralis).

Pemeriksaan Penunjang
EKG
Gambaran EKG biasanya menunjukkan gambaran VF (Ventricular Fibrillation).
Selain itu dapat pula terjadi asistol, yang survival rate-nya lebih rendah
daripada VF.
 

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Rekam Medik
Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik. Anamnesis berguna
untuk mengidentifikasi penyebabnya.

Diagnosis banding: -

Komplikasi

Konsekuensi dari kondisi ini adalah hipoksia ensefalopati, kerusakan
neurologi permanen dan kematian.

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
Melakukan resusitasi jantung paru pada pasien.
Pemeriksaan Penunjang Lanjutan
Pemeriksaan darah rutin dan kimia darah

Konseling dan Edukasi
a. Memberitahu keluarga mengenai kondisi pasien dan tindak lanjut dari
tindakan yang telah dilakukan, serta meminta keluarga untuk tetap
tenang dan tabah menemani pasien pada kondisi tersebut.
b. Memberitahu keluarga untuk melakukan pola hidup sehat seperti
mengurangi konsumsi makanan berlemak, menghentikan konsumsi
rokok dan alkohol, menjaga berat badan ideal, mengatur pola makan,
melakukan olah raga ringan secara teratur.

Rencana Tindak Lanjut
Monitor selalu kondisi pasien hingga dirujuk ke spesialis.

Kriteria rujukan

Pasien dirujuk ke spesialis berdasarkan kemungkinan penyebab (SpPD, SpJP
atau SpB, dan seterusnya) untuk tatalaksana lebih lanjut.

Sarana Prasarana

a. Elektrokardiografi (EKG)
b. Alat intubasi
c. Defibrilator
d. Tabung oksigen
e. Obat-obatan

Prognosis

Prognosis umumnya dubia ad malam, tergantung pada waktu dilakukannya
penanganan medis.



Sumber gambar:
 http://2.bp.blogspot.com/-ySJjj6PV9N4/UNgel960WfI/AAAAAAAAAVI/TnZhcwo6hkI/s1600/VF.jpg
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/20/US_Navy_040421-N-8090G-001_Hospital_Corpsman_3rd_Class_Flowers_administers_chest_compressions_to_a
_simulated_cardiac_arrest_victim.jpg

Related Posts:

0 Response to "CARDIORESPIRATORY ARREST"

Posting Komentar